Sabtu, 02 Juli 2011

Embun Pagi

Semilirnya angin mengangkat seluruh rasa malasku kepermukaan..... tak tahu entah mengapa rasa itu dirasakan hari ini, malas yang tak tertanggung lagi.....
suasana ini jarang sekali kurasakan......
sawah yang terbentang luas nun jauh disana....
matahari pagi yang bersinar tak menyengat. Hemmmm.........
tak ingin rasa ini cepat berlalu, keceriaan yang lama tak dirasa.

Senin, 20 Juni 2011

Karena rasa adalah segalanya...!!!

Sempat ragu dengan sesuatu yang dirasakan, namun juga sempat yakin kalau rasa itu salah. Salah karena merasakan sesuatu yang harusnya tidak dirasakan. Munafiq? Ya. Aku yakin, kalau apa yang selama ini aku katakan adalah sebuah kebenaran, bahwa itu adalah munafiq. Telah banyak hal yang dilewati, banyak pula kisah yang diukir demi kesenangan semata, tapi apa boleh dibuat, kenyataannya, segala kebahagiaan yang kurasakan kini ternyata memang bukan yang sebenarnya.
Rasa yang sebenarnya telah kupendam dihati yang terdalam. Tak ingin begini sebenarnya, namun egoku memintaku untuk menjeritkan sebuah kata "TIDAK" yang terucap. Semua ini bukan hanya karena seSUKAku dsaja, tapi jauh labih penting dari itu, yaitu LINGKUNGAN.
Tempatku berpijak kini tidak menuntutku untuk berkata "IYA", meskipun harus menelap pil pahit terhadap rasa yang dipendam, tapi aku sangat berharap, bahwa langkahku ini TEPAT.
Seteguh keyakinan hatiku yang memaksa diri untuk berucap sesuatu yang berlawanan dengan kata hati.
Keputusan itu untuk selamanya, bukan hanya untuk sesaat. Aku tahu itu, bahkan sangat tahu dengan segala konsekuensi yang akan aku terima terhadap segala pilihanku.
Kini, dihatiku hanya ada Kamu.......
Kamu yang menguasai hampir seluruh suara yang berteriak keras dihatiku.
penguasaan itu membuatku rapuh, ragu, dan Limbung.
Entah, semuanya serba berat......

Senin, 10 Januari 2011

Mata itu

Andai semua orang tahu arti tatapan mata, mungkin  tak perlu kalimat untuk mengungkapkan segala rasa yang ada.
Jika setiap orang paham makna tatapan mata, mungkin tidak butuh lagi susunan huruf untuk kemudian dirangkai menjadi kalimat yang dapat mewakili setiap ingin hati.
Dan umpamanya seluruh orang di permukaan bumi ini maksud dari setiap tatapan mata, mungkin tak akan lagi diperlukan suara sebagai wakil dari niatan hati.
Aku, mungkin tak cuma aku, kuyakin beberapa orang diluaran sana juga adalah merupakan bagian dari orang-orang di atas. Salahkah jika hal itu terjadi? Tidak. Tentu saja tidak. Aku orang pertama yang akan protes jika tidak memahami maksud orang lain lewat tatapan mata adalah suatu kesalahan. Tidak peka mungkin salah satu alasannya. Namun, itu bukanlah suatu kesalahan yang harus di derita oleh orang tersebut.

Selasa, 04 Januari 2011

Jauh dari semua

Matahari mulai naik, ketika itu aku dan dia berada di tempat masing-masing. Tapi aku tahu dia di sana bahagia. Yang aku tak tahu, apa aku masih ada dimatanya? Masih kenalkah ia denganku?
Bukan cuma aku yang menginginkan ini tak terjadi, tapi juga dia. Kami sama-sama menyesal dengan jalan hidup yang sudah kami pilih. Sama-sama tak kuasa mengelak dari takdir, tak ingin semua ini terjadi. Serta hanya menganggap ini semua hanyalah kecelakaan sejarah yang mungkin bisa berusaha dilupakan, tanpa sanggup untuk menghapusnya.
Melupakan mungkin serasa tak mungkin, namun tak selamanya semuanya terus terekam dalam hatiku juga hatinya, dalam ingatanku juga ingatannya, dalam setiap hembusan nafasku juga nafasnya.
Aku cukup yakin meski tak sepenuhnya yakin dengan keyakinanku, bahwa dia juga berusaha untuk mengikhlaskan segala yang terjadi. Mungkin bukan karena ingin kembali, namun lebih pada penyesalan atas keputusan dan segala sikap yang telah aku ambil.

Sabtu, 01 Januari 2011

Tahun Baruku

Aku dan beberapa kawanku merasa ingin menghadapi saat perubahan tahun ini dengan cara yang beda. Mungkin kebanyakan orang akan senang jika berada di suasana yang meriah dan ramai, tapi tidak demikian dengan kami.
Kami malah ingin ada di tempat yang tenang serta jauh dari hiruk-pikuk dunia yang hanya mengutamakan glamor.
Saat itu, kami hanya bisa bercerita sampai pagi. Ya, pagi. karena tidur lelap pun dimulai setelah waktu menunjukkan jam 2 lewat.
Paginya, kami justru memulai kegiatan dengan masuk hutan. Mungkin tidak akan seru bagi sebagian orang, namun tidak bagi kami. Kami justru sangat, sangat, bahkan sangat pangkat tak hingga senangnya. Memetik pakis di pinggir jalan yang kami tapaki bersama.
Tawa sesekali terlepas dari bibir kami ketika salah satu diantara kami justru menggunakan sepatu tingginya untuk masuk hutan, ditambah lagi kepeleset. uh, bukan main riangnya. Selain itu, kami juga tak lupa mengabadikan acarasederhana seperti itu dengan mematung sejenak di depan kamera. Lagi-lagi gelak tawa hadir, bagaimana tidak, ketika semua orang udah siap dengan posenya, eh si pembuat ulah justru ambil tempat yang semaknya luar biasa bahkan menutupi wajahnya. Setelah fotografer amatir selesai memotret, dan dilihatkan hasilnya, si empunya gaya aneh justru ngambek karena ia tak ada di foto. Wajar, orangnya kan ketutup semak. he.
Selesai dengan aktifitas petik-memetik pakis, kami pun menuju salah satu pondok yang sudah hampir tak berupa, cuma tinggal atapnya saja, tidak ada dinding atau lantai lagi. Disitu juga kami mulai mengabadikannya lagi. Orang yang tidak ramai membuat tingkah polah di antara kami dapat teramati dengan jelas.
Karena ingin mengabadikan semua orang dalam satu gambar, akhirnya kami memutuskan untuk mengaktifkan timer-nya.
Clek...
Selesai. Kami pun berhamburan melihatnya, ingin tahu hasilnya. Kami semua kecewa melihatnya, ternyata yang tertangkap kamera tak ada satu pun selain langit lengkap dengan awannya. Ulang lagi, itulah permintaan kami hampir serempak. Foto kedua ini tak ada yang berlarian mengejarnya, takut kecewa lagi. Hasilnya pun hampir sama dengan sebelumnya. Kami sepakat untuk mengulang sekali lagi, begitu selesai, kami pun semakin tak penasaran, tapi kenyataan sangat di luar dugaan. Hasilnya bagus. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah salah satu teman untuk memasak pakis tadi.
Tak lama ternyata masakan telah siap. Selesai makan kami langsung tidur. Kecapaian.
Cukup lama lelapnya, hampir 3 jam kami tertidur. Tanpa mandi lagi, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sudah hampir berkumandangnya adzan maghrib barulah ada bersih-bersih.

Kamis, 16 Desember 2010

Tyah Jak

Tadi, ketika salah seorang temanku sakit secara tiba-tiba, dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Aku dan kawan-kawan yang lain sibuk mencari pertolongan. Pertolongan yang menurut kami adalah hal yang dapat membantu yang sakit jadi cepat sembuh.
"Itu PP Kak," kata salah seorang adik tingkatku di kampus.
"Yeeeeeeee....," jawabku singkat.
Karena yang sakit itu pingsan, maka kami pun memberikan cairan yang dapat dengan cepat menyadarkan orang pingsan di kapas, agar dapat di hirup si sakit. Namun, hal tersebut sia-sia. Si sakit hanya membuka mata, namun tidak ada respon lainnya, termasuk mengedipkan mata pun bisa dikatakan tidak. inisiatif untuk membawanya ke RS. Bayangkara pun segera terlaksana.
Di sela-sela menunggunya sadar, kami mencari informasi tentang keluarganya untuk dapat memberitahu kondisinya. Namun, yang terjadi lain, kami menemukan banyak bisa mengarahkannya pada keluarganya.
"Ini bukan bapaknya Kak, tapi pacarnya," kata salah seorang temanku di saat kami menemukan kontak atas nama Abi.
Kami hanya bisa saling bertatap, dan semakin bingung begitu menemukan banyaknya kontak atas nama yang hampir sama, hanya beda bahasa, takut saja ternyata itu juga nama untuk orang lain yang juga bukan orang tua atau keluarganya.
"Waduh, kalau kaya' gini, gimana ceritanya?" kata yang lain. Kami saling bertatapan lagi dan mengangguk.
Aku, Lusi, dan Tyah yang kebetulan sedang menjaga si sakit, masih penasaran dengan ponsel yang dari tadi kami pegang. Sebuah ponsel yang memang jarang kami gunakan. Entah karena apa, kami sedikit kesulitan mengoperasikannya. Mungkin karena merknya yang berbeda dengan yang biasa kami gunakan? Ataukah karena memang ponsel itu yang di desain berbeda? Yang jelas kami tak bisa membuka pesan masuk untuk tahu daftar nama orang yang sering berkomunikasi dengan si sakit.
Di ponsel tersebut, ada 2 pesan masuk yang belum di buka, tapi Tyah, orang yang dari awal penasaran dengan pesan tersebut, justru gagal membuka pesan itu, karena susah menemukan kotak masuknya, setelah ketemu pun, bukannya masuk, malah keluar lagi.
"Macam mane bukanya ne," kata Tyah sedikit kesal.
Aku dan Lusi pun penasaran, kami langsung menyodorkan wajah di genggaman ponsel tersebut, penasaran dan bingung. Lagi-lagi kami hanya saling pandang.
"Kak Tyah, kalau masalah HP "aneh" tu, kasikan jak sama kak Rasti, diakan sering gonta-ganti HP tu, mulai dari merk yang aneh-aneh, yang tidak bisa di pakai untuk nelponlah, tak bisa untuk SMS lah. ndak tahu juga yang sekarang tidak bisa apanya lagi," celetuk Lusi sambil cengengesan menghadapku.
Posisiku yang berada di tengah antara Tyah dan Lusi membuat mereka gampang melihat ekspresiku yang tiba-tiba kecewa dengan kalimat terakhir Lusi. Tyah pun menyerahkan HP tersebut denganku. Aku pun menyambutnya. Sebentar.
"Ni kah?" tanyaku sambil membuka pesan tersebut.
"Tu kan. ndak percaya kata kame' (Lusi menyebutkan dirinya dengan kata kame')," ucap Lusi seolah menekankan kalau Aku bisa menggunakan HP "aneh" sebagaimana perkataan dia tadi.
Kami hanya saling tertawa. sambil masih mengotak-atik HP tersebut.
"Kak, HP Kakak yang sekarang apalagi masalahnya Kak?" tanya Lusi.
Dari pertanyaannya, Aku tahu kalau dia bukannya perhatian denganku, melainkan karena ia ingin tahu deritaku sekarang. Tak langsung kujawab.
"Masihkah tak bisa SMS?" tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk.
"Eh, tapi kadang-kangan, Lus. Kakak coba ya SMS Lusi. Siapa tahu bisa," kataku.
Beberapa saat kemudian, Aku menekan huruf-huruf yang ada hingga membentuk dua kata.
Belum sempat ku kirim. Tinggal menekan tanda titik sebagai penunjuk akhir sebuah kalimat.
"Tyah jak... Tyah jak....," kata Tyah sedikit memaksa.
Dia memaksa untuk menjadikan nomor HP-nya sebagai nomor tujuan yang akan dikirimkan SMS percobaanku.
"Iyalah," jawabku singkat.
Terpaksa dua kata tadi aku edit, karena sebelumnya Aku menuliskan nama Lusi di pesan singkat tersebut. Namun karena Tyah memaksa, Aku pun mengganti dengan terpaksa menjadi namanya, atas permintaannya sendiri.
"Eh... ndah... ndak... ndak....," teriak Tyah.
"Tak bisa...." jawabku.
Sementara Lusi hanya tertawa melihat pesan yang akan kukirim.
"Hikzt... Tyah ndak maok," kata Tyah sedikit memohon begitu ia terlanjur melihat pesan yang akan kukirim padanya.
Tyah Buro'. Itulah yang akan kukirim.
"Semoga tak bisa masuk," kata Tyah penuh harap.
Treeeet.... treeeet.... Getar HP Tyah menunjukkan ada yang masuk.
"Yaaa...h, dia masuk," kata Tyah.
Aku dan Lusi hanya bisa tertawa terbahak sepuas-puasnya, mengingat permohonan Tyah tadi untuk dikirimkan pesan tersebut.

Senin, 13 Desember 2010

Ikhlas

Jauh telah kini umurku bergerak. Perlahan namun pasti, perubahan itu tak pernah menungguku. menunggu setidaknya agar aku siap dengan kenyataan yang menyakitkan sekalipu. aku sadar, tak ada yang perniah siap dengan kesusahan, semuanya akan berkata "aku tak siap". kapan siapnya? Tak akan pernah...
Aku yakin dengan keyakinan yang melebihi tinggi badanku sendiri, bahwa tak kan pernah ada orang yang siap dengan keburukan yang menimpa. Ikhlas sekalipun dirasakan, itu bukan pertanda kesiapannya, ia hanya berusaha untuk menerima segala yang menimpanya terjadi sebagai sebuah hal yang memang harusnya begitu dan ia tidak punya pilihan lain.
Menikmati rasa sepahit apapun dengan senyuman.