Tadi, ketika salah seorang temanku sakit secara tiba-tiba, dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Aku dan kawan-kawan yang lain sibuk mencari pertolongan. Pertolongan yang menurut kami adalah hal yang dapat membantu yang sakit jadi cepat sembuh.
"Itu PP Kak," kata salah seorang adik tingkatku di kampus.
"Yeeeeeeee....," jawabku singkat.
Karena yang sakit itu pingsan, maka kami pun memberikan cairan yang dapat dengan cepat menyadarkan orang pingsan di kapas, agar dapat di hirup si sakit. Namun, hal tersebut sia-sia. Si sakit hanya membuka mata, namun tidak ada respon lainnya, termasuk mengedipkan mata pun bisa dikatakan tidak. inisiatif untuk membawanya ke RS. Bayangkara pun segera terlaksana.
Di sela-sela menunggunya sadar, kami mencari informasi tentang keluarganya untuk dapat memberitahu kondisinya. Namun, yang terjadi lain, kami menemukan banyak bisa mengarahkannya pada keluarganya.
"Ini bukan bapaknya Kak, tapi pacarnya," kata salah seorang temanku di saat kami menemukan kontak atas nama Abi.
Kami hanya bisa saling bertatap, dan semakin bingung begitu menemukan banyaknya kontak atas nama yang hampir sama, hanya beda bahasa, takut saja ternyata itu juga nama untuk orang lain yang juga bukan orang tua atau keluarganya.
"Waduh, kalau kaya' gini, gimana ceritanya?" kata yang lain. Kami saling bertatapan lagi dan mengangguk.
Aku, Lusi, dan Tyah yang kebetulan sedang menjaga si sakit, masih penasaran dengan ponsel yang dari tadi kami pegang. Sebuah ponsel yang memang jarang kami gunakan. Entah karena apa, kami sedikit kesulitan mengoperasikannya. Mungkin karena merknya yang berbeda dengan yang biasa kami gunakan? Ataukah karena memang ponsel itu yang di desain berbeda? Yang jelas kami tak bisa membuka pesan masuk untuk tahu daftar nama orang yang sering berkomunikasi dengan si sakit.
Di ponsel tersebut, ada 2 pesan masuk yang belum di buka, tapi Tyah, orang yang dari awal penasaran dengan pesan tersebut, justru gagal membuka pesan itu, karena susah menemukan kotak masuknya, setelah ketemu pun, bukannya masuk, malah keluar lagi.
"Macam mane bukanya ne," kata Tyah sedikit kesal.
Aku dan Lusi pun penasaran, kami langsung menyodorkan wajah di genggaman ponsel tersebut, penasaran dan bingung. Lagi-lagi kami hanya saling pandang.
"Kak Tyah, kalau masalah HP "aneh" tu, kasikan jak sama kak Rasti, diakan sering gonta-ganti HP tu, mulai dari merk yang aneh-aneh, yang tidak bisa di pakai untuk nelponlah, tak bisa untuk SMS lah. ndak tahu juga yang sekarang tidak bisa apanya lagi," celetuk Lusi sambil cengengesan menghadapku.
Posisiku yang berada di tengah antara Tyah dan Lusi membuat mereka gampang melihat ekspresiku yang tiba-tiba kecewa dengan kalimat terakhir Lusi. Tyah pun menyerahkan HP tersebut denganku. Aku pun menyambutnya. Sebentar.
"Ni kah?" tanyaku sambil membuka pesan tersebut.
"Tu kan. ndak percaya kata kame' (Lusi menyebutkan dirinya dengan kata kame')," ucap Lusi seolah menekankan kalau Aku bisa menggunakan HP "aneh" sebagaimana perkataan dia tadi.
Kami hanya saling tertawa. sambil masih mengotak-atik HP tersebut.
"Kak, HP Kakak yang sekarang apalagi masalahnya Kak?" tanya Lusi.
Dari pertanyaannya, Aku tahu kalau dia bukannya perhatian denganku, melainkan karena ia ingin tahu deritaku sekarang. Tak langsung kujawab.
"Masihkah tak bisa SMS?" tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk.
"Eh, tapi kadang-kangan, Lus. Kakak coba ya SMS Lusi. Siapa tahu bisa," kataku.
Beberapa saat kemudian, Aku menekan huruf-huruf yang ada hingga membentuk dua kata.
Belum sempat ku kirim. Tinggal menekan tanda titik sebagai penunjuk akhir sebuah kalimat.
"Tyah jak... Tyah jak....," kata Tyah sedikit memaksa.
Dia memaksa untuk menjadikan nomor HP-nya sebagai nomor tujuan yang akan dikirimkan SMS percobaanku.
"Iyalah," jawabku singkat.
Terpaksa dua kata tadi aku edit, karena sebelumnya Aku menuliskan nama Lusi di pesan singkat tersebut. Namun karena Tyah memaksa, Aku pun mengganti dengan terpaksa menjadi namanya, atas permintaannya sendiri.
"Eh... ndah... ndak... ndak....," teriak Tyah.
"Tak bisa...." jawabku.
Sementara Lusi hanya tertawa melihat pesan yang akan kukirim.
"Hikzt... Tyah ndak maok," kata Tyah sedikit memohon begitu ia terlanjur melihat pesan yang akan kukirim padanya.
Tyah Buro'. Itulah yang akan kukirim.
"Semoga tak bisa masuk," kata Tyah penuh harap.
Treeeet.... treeeet.... Getar HP Tyah menunjukkan ada yang masuk.
"Yaaa...h, dia masuk," kata Tyah.
Aku dan Lusi hanya bisa tertawa terbahak sepuas-puasnya, mengingat permohonan Tyah tadi untuk dikirimkan pesan tersebut.
mencoba mencari makna kehidupan dari segala yang terjadi... biarkanlah semua orang berusaha menjadi pelakon yang baik, sesuai dengan peran yang telah ditentukan.
Kamis, 16 Desember 2010
Senin, 13 Desember 2010
Ikhlas
Jauh telah kini umurku bergerak. Perlahan namun pasti, perubahan itu tak pernah menungguku. menunggu setidaknya agar aku siap dengan kenyataan yang menyakitkan sekalipu. aku sadar, tak ada yang perniah siap dengan kesusahan, semuanya akan berkata "aku tak siap". kapan siapnya? Tak akan pernah...
Aku yakin dengan keyakinan yang melebihi tinggi badanku sendiri, bahwa tak kan pernah ada orang yang siap dengan keburukan yang menimpa. Ikhlas sekalipun dirasakan, itu bukan pertanda kesiapannya, ia hanya berusaha untuk menerima segala yang menimpanya terjadi sebagai sebuah hal yang memang harusnya begitu dan ia tidak punya pilihan lain.
Menikmati rasa sepahit apapun dengan senyuman.
Aku yakin dengan keyakinan yang melebihi tinggi badanku sendiri, bahwa tak kan pernah ada orang yang siap dengan keburukan yang menimpa. Ikhlas sekalipun dirasakan, itu bukan pertanda kesiapannya, ia hanya berusaha untuk menerima segala yang menimpanya terjadi sebagai sebuah hal yang memang harusnya begitu dan ia tidak punya pilihan lain.
Menikmati rasa sepahit apapun dengan senyuman.
Rabu, 08 Desember 2010
DINGIN
Tak cukup rasanya semua kain yang ada di sekitarku untuk menutupi semua rasa dingin yang aku rasakan. Dingin yang teramat sangat membuat tak seorangpun mampu menolak untuk tidak merasakannya walaupun terpaksa.
Aku hanya sebagian kecil dari penghuni bumi yang tersiksa dengan kenikmatan yang ada.
Kenikmatan yang teramat sakit untuk dapat dinikmati.
Haruskah pasrah menjadi pilihan terakhir dengan segenap ketidakberdayaan yang menghantui hidup?
Kini, aku juga mereka berada di satu tempat yang tak terjangkau oleh logika.
Sebuah tempat yang hanya mengandalkan nafsu untuk dapat bertahan hidup, agar semuanya dapat melanjutkan kisah yang ada.
Rasa ini membuat kita sadar akan pentingnya ikhlas.
Dengan itu kita akan dapat merasakan indahnya hidup dengan segala kekurangannya.
Aku hanya sebagian kecil dari penghuni bumi yang tersiksa dengan kenikmatan yang ada.
Kenikmatan yang teramat sakit untuk dapat dinikmati.
Haruskah pasrah menjadi pilihan terakhir dengan segenap ketidakberdayaan yang menghantui hidup?
Kini, aku juga mereka berada di satu tempat yang tak terjangkau oleh logika.
Sebuah tempat yang hanya mengandalkan nafsu untuk dapat bertahan hidup, agar semuanya dapat melanjutkan kisah yang ada.
Rasa ini membuat kita sadar akan pentingnya ikhlas.
Dengan itu kita akan dapat merasakan indahnya hidup dengan segala kekurangannya.
Langganan:
Postingan (Atom)