Jumat, 16 Desember 2011

PERIH

Ikhlas memang tak semudah yang dibayangkan. Aku, untuk kesekian kalinya harus menahan suhu badan yang tiba-tiba saja memuncak saat mengetahui segala yang kau sembunyikan. Aku, untuk yang kesekian kalinya tak sanggup menerima semua kenyataan terkuak dipermukaan. Aku, untuk kesekian kalinya mengacuhkan segala penjelasan yang terlontar tanpa makna dari mulutmu. Dan aku, lagi-lagi untuk kesekian kalinya terpaksa HARUS mengerti kondisimu. Kenapa??? Tak bisakah sedikit saja untuk tak menganggap "maaf" dariku sebagai suatu yang percuma, hingga kau TAK AKAN pernah ingin meminta MAAF lagi padaku. Jauhkan segala yang membuatmu TERPAKSA untuk memohon lagi dan lagi dariku. Huh.. lagi-lagi... Huh... jauh memang dari sempurna, tapi sungguh, aku tak pernah menginginkan keSEMPURNAan dari kisah ini. Kecuali, sedikit penguatan untuk kepercayaan yang tertanam dihatiku. Sudah kubilang, tak banyak yang kuminta, tapi sering. Pahami itu. Pahami...

Kamis, 27 Oktober 2011

Kini...!!!!!

Kian hari, semua kian terasa berubah dihidupku. Hari-hari yang pernah kubayangkan akan datang ternyata malah akan menjauh dariku. Aku tahu PERUBAHAN itu ABADI, namun yang aku tak tahu perubahan itu menjauh dari harapanku. Sungguh, semua ini amat membuat luka bagiku. Tak ingin sekali aku untuk mengeluh, tapi apakah masih bisa aku untuk berharap sesuatu yang aku sendiri sadar akan keTIDAKMUNGKINannya hadir. Wajarkah bagiku untuk senantiasa sabar atas semua ini. Kebodohan macam apa yang sedang kulakoni? Bukankah aku ibarat menanti datangnya hujan dimusim kemarau? Sia-sia? May Be. Tapi tidak, akun YAKIN tidak ada yang sia-sia. Tidak hanya untukku, untukmu, untuk dia, bhakan juga untuk mereka. Semua akan menjadi sebab bagi seabgian lain yang menjadi akibat dari yang telah kita lakukan. Pemaknaan hidup yang tak pernah mengenal lelah untuk menyembunyikan kemisteriannya. Mungkin misteri ini sebenarnya tidak disembunyikan, hanya saja tidak terbaca oleh nurani. Kehidupan yang membuat seseorang tak kuasa untuk mereka-reka jalan hidupnya. Seseorang yang TERpaksa pasrah pada takdir, namun bukan berarti mengalah pada keadaan. Semua perlu PERJUANGAN, semua perlu PENGORBANAN. Masih adakah yang terlewat dan tak terlaksana??? Entah... Semuanya tinggal menunggu hasil atas semua usaha yang telah dilakukan.

Senin, 10 Oktober 2011

AKU

Perjalanan hidup ini membuatku enggan kembali kemasa lalu. Entah apa yang terjadi dulu, namun kuyakin dengan kesungguhan yang teramat bahwa masa lalu itu hanya akan membuka luka lamaku terbuka. Kesembuhan yang teramat lama kuobati akan sia-sia jika aku memutuskan untuk kembali. "TIDAK", sekali pun tidak. Aku mohon, jangan biarkan luka ini membuatku tergugu akan masa silam. Kesenangan dulu tidak akan pernah terulang. Kalaupun ada kebahagiaan lagi untukku, tapi aku yakin bukan yang dulu pernah kurasakan. Hemmmm....... Hampa mulai terasa saat kenangan masa lalu melintas diingatan... Darah direlung hati mulai merembes sampai pada batas terendah dalam hidupku. Sakit. Perih. Jiwa ini guncang karenanya... Limbung kini AKU. Kau yang tak pernah jauh dari sisiku, kini telah mengubah arah menjauh. Membalik haluan, putar langkah dan tak menatap. Tertunduk untuk kesekian kalinya saat raga hampir setara. Namun, apa artinya semua ini kau lakukan??? Apa maksud dari sikap yang kau ambil??? Adakah aku yang telah menjadi hantu dihadapanmu? Ataukah kau yang telah membutakan matamu untuk tak lagi menghardikku sebagai makhluk kasat mata didunia ini!!! Jauh sudah kini batas diantara kita. Jurang itu tak terlangkah lagi. Kau dengan inginmu dan aku dengan sejuta harapanku tuk dapat mencampakkanmu dari memory otakku. Aku yang tak pernah kuasa hidup berbayangkan semu senyummu. Akankah SEMUA ini rencana Tuhan untukku??? Ataukah aku yang terlalu mereka-reka kisah yang sebenarnya aku sendiri sudah tak sanggup lagi menjalaninya. Sungguh, tak tertanggung lagi beratnya derita ini. Kemanjaanku mulai memuncak saat cermin besar menampilkan wajah kusutku. Ingin rasanya aku berteriak keras. Agar Kau tahu kalau saat ini aku rapuh. Lemah dengan semua yang telah aku putuskan sendiri... Hemmmmm..... Apa ini ya Tuhan??? Begitu jauhkah aku dariMU??? Hingga Kau sadarkan aku dengan cara yang aku sendiri tak mampu membayangkannya. Hikzt.... Masih adakah pundak yang bisa menerima sandaranku? Masih adakah telinga yang mau mendengar tangisku? Masih adakah Hati yang rela ikut merasakan perihku? HAH.... Entahlah....

Sabtu, 02 Juli 2011

Embun Pagi

Semilirnya angin mengangkat seluruh rasa malasku kepermukaan..... tak tahu entah mengapa rasa itu dirasakan hari ini, malas yang tak tertanggung lagi.....
suasana ini jarang sekali kurasakan......
sawah yang terbentang luas nun jauh disana....
matahari pagi yang bersinar tak menyengat. Hemmmm.........
tak ingin rasa ini cepat berlalu, keceriaan yang lama tak dirasa.

Senin, 20 Juni 2011

Karena rasa adalah segalanya...!!!

Sempat ragu dengan sesuatu yang dirasakan, namun juga sempat yakin kalau rasa itu salah. Salah karena merasakan sesuatu yang harusnya tidak dirasakan. Munafiq? Ya. Aku yakin, kalau apa yang selama ini aku katakan adalah sebuah kebenaran, bahwa itu adalah munafiq. Telah banyak hal yang dilewati, banyak pula kisah yang diukir demi kesenangan semata, tapi apa boleh dibuat, kenyataannya, segala kebahagiaan yang kurasakan kini ternyata memang bukan yang sebenarnya.
Rasa yang sebenarnya telah kupendam dihati yang terdalam. Tak ingin begini sebenarnya, namun egoku memintaku untuk menjeritkan sebuah kata "TIDAK" yang terucap. Semua ini bukan hanya karena seSUKAku dsaja, tapi jauh labih penting dari itu, yaitu LINGKUNGAN.
Tempatku berpijak kini tidak menuntutku untuk berkata "IYA", meskipun harus menelap pil pahit terhadap rasa yang dipendam, tapi aku sangat berharap, bahwa langkahku ini TEPAT.
Seteguh keyakinan hatiku yang memaksa diri untuk berucap sesuatu yang berlawanan dengan kata hati.
Keputusan itu untuk selamanya, bukan hanya untuk sesaat. Aku tahu itu, bahkan sangat tahu dengan segala konsekuensi yang akan aku terima terhadap segala pilihanku.
Kini, dihatiku hanya ada Kamu.......
Kamu yang menguasai hampir seluruh suara yang berteriak keras dihatiku.
penguasaan itu membuatku rapuh, ragu, dan Limbung.
Entah, semuanya serba berat......

Senin, 10 Januari 2011

Mata itu

Andai semua orang tahu arti tatapan mata, mungkin  tak perlu kalimat untuk mengungkapkan segala rasa yang ada.
Jika setiap orang paham makna tatapan mata, mungkin tidak butuh lagi susunan huruf untuk kemudian dirangkai menjadi kalimat yang dapat mewakili setiap ingin hati.
Dan umpamanya seluruh orang di permukaan bumi ini maksud dari setiap tatapan mata, mungkin tak akan lagi diperlukan suara sebagai wakil dari niatan hati.
Aku, mungkin tak cuma aku, kuyakin beberapa orang diluaran sana juga adalah merupakan bagian dari orang-orang di atas. Salahkah jika hal itu terjadi? Tidak. Tentu saja tidak. Aku orang pertama yang akan protes jika tidak memahami maksud orang lain lewat tatapan mata adalah suatu kesalahan. Tidak peka mungkin salah satu alasannya. Namun, itu bukanlah suatu kesalahan yang harus di derita oleh orang tersebut.

Selasa, 04 Januari 2011

Jauh dari semua

Matahari mulai naik, ketika itu aku dan dia berada di tempat masing-masing. Tapi aku tahu dia di sana bahagia. Yang aku tak tahu, apa aku masih ada dimatanya? Masih kenalkah ia denganku?
Bukan cuma aku yang menginginkan ini tak terjadi, tapi juga dia. Kami sama-sama menyesal dengan jalan hidup yang sudah kami pilih. Sama-sama tak kuasa mengelak dari takdir, tak ingin semua ini terjadi. Serta hanya menganggap ini semua hanyalah kecelakaan sejarah yang mungkin bisa berusaha dilupakan, tanpa sanggup untuk menghapusnya.
Melupakan mungkin serasa tak mungkin, namun tak selamanya semuanya terus terekam dalam hatiku juga hatinya, dalam ingatanku juga ingatannya, dalam setiap hembusan nafasku juga nafasnya.
Aku cukup yakin meski tak sepenuhnya yakin dengan keyakinanku, bahwa dia juga berusaha untuk mengikhlaskan segala yang terjadi. Mungkin bukan karena ingin kembali, namun lebih pada penyesalan atas keputusan dan segala sikap yang telah aku ambil.

Sabtu, 01 Januari 2011

Tahun Baruku

Aku dan beberapa kawanku merasa ingin menghadapi saat perubahan tahun ini dengan cara yang beda. Mungkin kebanyakan orang akan senang jika berada di suasana yang meriah dan ramai, tapi tidak demikian dengan kami.
Kami malah ingin ada di tempat yang tenang serta jauh dari hiruk-pikuk dunia yang hanya mengutamakan glamor.
Saat itu, kami hanya bisa bercerita sampai pagi. Ya, pagi. karena tidur lelap pun dimulai setelah waktu menunjukkan jam 2 lewat.
Paginya, kami justru memulai kegiatan dengan masuk hutan. Mungkin tidak akan seru bagi sebagian orang, namun tidak bagi kami. Kami justru sangat, sangat, bahkan sangat pangkat tak hingga senangnya. Memetik pakis di pinggir jalan yang kami tapaki bersama.
Tawa sesekali terlepas dari bibir kami ketika salah satu diantara kami justru menggunakan sepatu tingginya untuk masuk hutan, ditambah lagi kepeleset. uh, bukan main riangnya. Selain itu, kami juga tak lupa mengabadikan acarasederhana seperti itu dengan mematung sejenak di depan kamera. Lagi-lagi gelak tawa hadir, bagaimana tidak, ketika semua orang udah siap dengan posenya, eh si pembuat ulah justru ambil tempat yang semaknya luar biasa bahkan menutupi wajahnya. Setelah fotografer amatir selesai memotret, dan dilihatkan hasilnya, si empunya gaya aneh justru ngambek karena ia tak ada di foto. Wajar, orangnya kan ketutup semak. he.
Selesai dengan aktifitas petik-memetik pakis, kami pun menuju salah satu pondok yang sudah hampir tak berupa, cuma tinggal atapnya saja, tidak ada dinding atau lantai lagi. Disitu juga kami mulai mengabadikannya lagi. Orang yang tidak ramai membuat tingkah polah di antara kami dapat teramati dengan jelas.
Karena ingin mengabadikan semua orang dalam satu gambar, akhirnya kami memutuskan untuk mengaktifkan timer-nya.
Clek...
Selesai. Kami pun berhamburan melihatnya, ingin tahu hasilnya. Kami semua kecewa melihatnya, ternyata yang tertangkap kamera tak ada satu pun selain langit lengkap dengan awannya. Ulang lagi, itulah permintaan kami hampir serempak. Foto kedua ini tak ada yang berlarian mengejarnya, takut kecewa lagi. Hasilnya pun hampir sama dengan sebelumnya. Kami sepakat untuk mengulang sekali lagi, begitu selesai, kami pun semakin tak penasaran, tapi kenyataan sangat di luar dugaan. Hasilnya bagus. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah salah satu teman untuk memasak pakis tadi.
Tak lama ternyata masakan telah siap. Selesai makan kami langsung tidur. Kecapaian.
Cukup lama lelapnya, hampir 3 jam kami tertidur. Tanpa mandi lagi, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sudah hampir berkumandangnya adzan maghrib barulah ada bersih-bersih.