Andai semua orang tahu arti tatapan mata, mungkin tak perlu kalimat untuk mengungkapkan segala rasa yang ada.
Jika setiap orang paham makna tatapan mata, mungkin tidak butuh lagi susunan huruf untuk kemudian dirangkai menjadi kalimat yang dapat mewakili setiap ingin hati.
Dan umpamanya seluruh orang di permukaan bumi ini maksud dari setiap tatapan mata, mungkin tak akan lagi diperlukan suara sebagai wakil dari niatan hati.
Aku, mungkin tak cuma aku, kuyakin beberapa orang diluaran sana juga adalah merupakan bagian dari orang-orang di atas. Salahkah jika hal itu terjadi? Tidak. Tentu saja tidak. Aku orang pertama yang akan protes jika tidak memahami maksud orang lain lewat tatapan mata adalah suatu kesalahan. Tidak peka mungkin salah satu alasannya. Namun, itu bukanlah suatu kesalahan yang harus di derita oleh orang tersebut.
mencoba mencari makna kehidupan dari segala yang terjadi... biarkanlah semua orang berusaha menjadi pelakon yang baik, sesuai dengan peran yang telah ditentukan.
Senin, 10 Januari 2011
Selasa, 04 Januari 2011
Jauh dari semua
Matahari mulai naik, ketika itu aku dan dia berada di tempat masing-masing. Tapi aku tahu dia di sana bahagia. Yang aku tak tahu, apa aku masih ada dimatanya? Masih kenalkah ia denganku?
Bukan cuma aku yang menginginkan ini tak terjadi, tapi juga dia. Kami sama-sama menyesal dengan jalan hidup yang sudah kami pilih. Sama-sama tak kuasa mengelak dari takdir, tak ingin semua ini terjadi. Serta hanya menganggap ini semua hanyalah kecelakaan sejarah yang mungkin bisa berusaha dilupakan, tanpa sanggup untuk menghapusnya.
Melupakan mungkin serasa tak mungkin, namun tak selamanya semuanya terus terekam dalam hatiku juga hatinya, dalam ingatanku juga ingatannya, dalam setiap hembusan nafasku juga nafasnya.
Aku cukup yakin meski tak sepenuhnya yakin dengan keyakinanku, bahwa dia juga berusaha untuk mengikhlaskan segala yang terjadi. Mungkin bukan karena ingin kembali, namun lebih pada penyesalan atas keputusan dan segala sikap yang telah aku ambil.
Bukan cuma aku yang menginginkan ini tak terjadi, tapi juga dia. Kami sama-sama menyesal dengan jalan hidup yang sudah kami pilih. Sama-sama tak kuasa mengelak dari takdir, tak ingin semua ini terjadi. Serta hanya menganggap ini semua hanyalah kecelakaan sejarah yang mungkin bisa berusaha dilupakan, tanpa sanggup untuk menghapusnya.
Melupakan mungkin serasa tak mungkin, namun tak selamanya semuanya terus terekam dalam hatiku juga hatinya, dalam ingatanku juga ingatannya, dalam setiap hembusan nafasku juga nafasnya.
Aku cukup yakin meski tak sepenuhnya yakin dengan keyakinanku, bahwa dia juga berusaha untuk mengikhlaskan segala yang terjadi. Mungkin bukan karena ingin kembali, namun lebih pada penyesalan atas keputusan dan segala sikap yang telah aku ambil.
Sabtu, 01 Januari 2011
Tahun Baruku
Aku dan beberapa kawanku merasa ingin menghadapi saat perubahan tahun ini dengan cara yang beda. Mungkin kebanyakan orang akan senang jika berada di suasana yang meriah dan ramai, tapi tidak demikian dengan kami.
Kami malah ingin ada di tempat yang tenang serta jauh dari hiruk-pikuk dunia yang hanya mengutamakan glamor.
Saat itu, kami hanya bisa bercerita sampai pagi. Ya, pagi. karena tidur lelap pun dimulai setelah waktu menunjukkan jam 2 lewat.
Paginya, kami justru memulai kegiatan dengan masuk hutan. Mungkin tidak akan seru bagi sebagian orang, namun tidak bagi kami. Kami justru sangat, sangat, bahkan sangat pangkat tak hingga senangnya. Memetik pakis di pinggir jalan yang kami tapaki bersama.
Tawa sesekali terlepas dari bibir kami ketika salah satu diantara kami justru menggunakan sepatu tingginya untuk masuk hutan, ditambah lagi kepeleset. uh, bukan main riangnya. Selain itu, kami juga tak lupa mengabadikan acarasederhana seperti itu dengan mematung sejenak di depan kamera. Lagi-lagi gelak tawa hadir, bagaimana tidak, ketika semua orang udah siap dengan posenya, eh si pembuat ulah justru ambil tempat yang semaknya luar biasa bahkan menutupi wajahnya. Setelah fotografer amatir selesai memotret, dan dilihatkan hasilnya, si empunya gaya aneh justru ngambek karena ia tak ada di foto. Wajar, orangnya kan ketutup semak. he.
Selesai dengan aktifitas petik-memetik pakis, kami pun menuju salah satu pondok yang sudah hampir tak berupa, cuma tinggal atapnya saja, tidak ada dinding atau lantai lagi. Disitu juga kami mulai mengabadikannya lagi. Orang yang tidak ramai membuat tingkah polah di antara kami dapat teramati dengan jelas.
Karena ingin mengabadikan semua orang dalam satu gambar, akhirnya kami memutuskan untuk mengaktifkan timer-nya.
Clek...
Selesai. Kami pun berhamburan melihatnya, ingin tahu hasilnya. Kami semua kecewa melihatnya, ternyata yang tertangkap kamera tak ada satu pun selain langit lengkap dengan awannya. Ulang lagi, itulah permintaan kami hampir serempak. Foto kedua ini tak ada yang berlarian mengejarnya, takut kecewa lagi. Hasilnya pun hampir sama dengan sebelumnya. Kami sepakat untuk mengulang sekali lagi, begitu selesai, kami pun semakin tak penasaran, tapi kenyataan sangat di luar dugaan. Hasilnya bagus. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah salah satu teman untuk memasak pakis tadi.
Tak lama ternyata masakan telah siap. Selesai makan kami langsung tidur. Kecapaian.
Cukup lama lelapnya, hampir 3 jam kami tertidur. Tanpa mandi lagi, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sudah hampir berkumandangnya adzan maghrib barulah ada bersih-bersih.
Kami malah ingin ada di tempat yang tenang serta jauh dari hiruk-pikuk dunia yang hanya mengutamakan glamor.
Saat itu, kami hanya bisa bercerita sampai pagi. Ya, pagi. karena tidur lelap pun dimulai setelah waktu menunjukkan jam 2 lewat.
Paginya, kami justru memulai kegiatan dengan masuk hutan. Mungkin tidak akan seru bagi sebagian orang, namun tidak bagi kami. Kami justru sangat, sangat, bahkan sangat pangkat tak hingga senangnya. Memetik pakis di pinggir jalan yang kami tapaki bersama.
Tawa sesekali terlepas dari bibir kami ketika salah satu diantara kami justru menggunakan sepatu tingginya untuk masuk hutan, ditambah lagi kepeleset. uh, bukan main riangnya. Selain itu, kami juga tak lupa mengabadikan acarasederhana seperti itu dengan mematung sejenak di depan kamera. Lagi-lagi gelak tawa hadir, bagaimana tidak, ketika semua orang udah siap dengan posenya, eh si pembuat ulah justru ambil tempat yang semaknya luar biasa bahkan menutupi wajahnya. Setelah fotografer amatir selesai memotret, dan dilihatkan hasilnya, si empunya gaya aneh justru ngambek karena ia tak ada di foto. Wajar, orangnya kan ketutup semak. he.
Selesai dengan aktifitas petik-memetik pakis, kami pun menuju salah satu pondok yang sudah hampir tak berupa, cuma tinggal atapnya saja, tidak ada dinding atau lantai lagi. Disitu juga kami mulai mengabadikannya lagi. Orang yang tidak ramai membuat tingkah polah di antara kami dapat teramati dengan jelas.
Karena ingin mengabadikan semua orang dalam satu gambar, akhirnya kami memutuskan untuk mengaktifkan timer-nya.
Clek...
Selesai. Kami pun berhamburan melihatnya, ingin tahu hasilnya. Kami semua kecewa melihatnya, ternyata yang tertangkap kamera tak ada satu pun selain langit lengkap dengan awannya. Ulang lagi, itulah permintaan kami hampir serempak. Foto kedua ini tak ada yang berlarian mengejarnya, takut kecewa lagi. Hasilnya pun hampir sama dengan sebelumnya. Kami sepakat untuk mengulang sekali lagi, begitu selesai, kami pun semakin tak penasaran, tapi kenyataan sangat di luar dugaan. Hasilnya bagus. Kami pun melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah salah satu teman untuk memasak pakis tadi.
Tak lama ternyata masakan telah siap. Selesai makan kami langsung tidur. Kecapaian.
Cukup lama lelapnya, hampir 3 jam kami tertidur. Tanpa mandi lagi, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Sudah hampir berkumandangnya adzan maghrib barulah ada bersih-bersih.
Langganan:
Postingan (Atom)