Kamis, 16 Desember 2010

Tyah Jak

Tadi, ketika salah seorang temanku sakit secara tiba-tiba, dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Aku dan kawan-kawan yang lain sibuk mencari pertolongan. Pertolongan yang menurut kami adalah hal yang dapat membantu yang sakit jadi cepat sembuh.
"Itu PP Kak," kata salah seorang adik tingkatku di kampus.
"Yeeeeeeee....," jawabku singkat.
Karena yang sakit itu pingsan, maka kami pun memberikan cairan yang dapat dengan cepat menyadarkan orang pingsan di kapas, agar dapat di hirup si sakit. Namun, hal tersebut sia-sia. Si sakit hanya membuka mata, namun tidak ada respon lainnya, termasuk mengedipkan mata pun bisa dikatakan tidak. inisiatif untuk membawanya ke RS. Bayangkara pun segera terlaksana.
Di sela-sela menunggunya sadar, kami mencari informasi tentang keluarganya untuk dapat memberitahu kondisinya. Namun, yang terjadi lain, kami menemukan banyak bisa mengarahkannya pada keluarganya.
"Ini bukan bapaknya Kak, tapi pacarnya," kata salah seorang temanku di saat kami menemukan kontak atas nama Abi.
Kami hanya bisa saling bertatap, dan semakin bingung begitu menemukan banyaknya kontak atas nama yang hampir sama, hanya beda bahasa, takut saja ternyata itu juga nama untuk orang lain yang juga bukan orang tua atau keluarganya.
"Waduh, kalau kaya' gini, gimana ceritanya?" kata yang lain. Kami saling bertatapan lagi dan mengangguk.
Aku, Lusi, dan Tyah yang kebetulan sedang menjaga si sakit, masih penasaran dengan ponsel yang dari tadi kami pegang. Sebuah ponsel yang memang jarang kami gunakan. Entah karena apa, kami sedikit kesulitan mengoperasikannya. Mungkin karena merknya yang berbeda dengan yang biasa kami gunakan? Ataukah karena memang ponsel itu yang di desain berbeda? Yang jelas kami tak bisa membuka pesan masuk untuk tahu daftar nama orang yang sering berkomunikasi dengan si sakit.
Di ponsel tersebut, ada 2 pesan masuk yang belum di buka, tapi Tyah, orang yang dari awal penasaran dengan pesan tersebut, justru gagal membuka pesan itu, karena susah menemukan kotak masuknya, setelah ketemu pun, bukannya masuk, malah keluar lagi.
"Macam mane bukanya ne," kata Tyah sedikit kesal.
Aku dan Lusi pun penasaran, kami langsung menyodorkan wajah di genggaman ponsel tersebut, penasaran dan bingung. Lagi-lagi kami hanya saling pandang.
"Kak Tyah, kalau masalah HP "aneh" tu, kasikan jak sama kak Rasti, diakan sering gonta-ganti HP tu, mulai dari merk yang aneh-aneh, yang tidak bisa di pakai untuk nelponlah, tak bisa untuk SMS lah. ndak tahu juga yang sekarang tidak bisa apanya lagi," celetuk Lusi sambil cengengesan menghadapku.
Posisiku yang berada di tengah antara Tyah dan Lusi membuat mereka gampang melihat ekspresiku yang tiba-tiba kecewa dengan kalimat terakhir Lusi. Tyah pun menyerahkan HP tersebut denganku. Aku pun menyambutnya. Sebentar.
"Ni kah?" tanyaku sambil membuka pesan tersebut.
"Tu kan. ndak percaya kata kame' (Lusi menyebutkan dirinya dengan kata kame')," ucap Lusi seolah menekankan kalau Aku bisa menggunakan HP "aneh" sebagaimana perkataan dia tadi.
Kami hanya saling tertawa. sambil masih mengotak-atik HP tersebut.
"Kak, HP Kakak yang sekarang apalagi masalahnya Kak?" tanya Lusi.
Dari pertanyaannya, Aku tahu kalau dia bukannya perhatian denganku, melainkan karena ia ingin tahu deritaku sekarang. Tak langsung kujawab.
"Masihkah tak bisa SMS?" tanyanya lagi.
Aku hanya mengangguk.
"Eh, tapi kadang-kangan, Lus. Kakak coba ya SMS Lusi. Siapa tahu bisa," kataku.
Beberapa saat kemudian, Aku menekan huruf-huruf yang ada hingga membentuk dua kata.
Belum sempat ku kirim. Tinggal menekan tanda titik sebagai penunjuk akhir sebuah kalimat.
"Tyah jak... Tyah jak....," kata Tyah sedikit memaksa.
Dia memaksa untuk menjadikan nomor HP-nya sebagai nomor tujuan yang akan dikirimkan SMS percobaanku.
"Iyalah," jawabku singkat.
Terpaksa dua kata tadi aku edit, karena sebelumnya Aku menuliskan nama Lusi di pesan singkat tersebut. Namun karena Tyah memaksa, Aku pun mengganti dengan terpaksa menjadi namanya, atas permintaannya sendiri.
"Eh... ndah... ndak... ndak....," teriak Tyah.
"Tak bisa...." jawabku.
Sementara Lusi hanya tertawa melihat pesan yang akan kukirim.
"Hikzt... Tyah ndak maok," kata Tyah sedikit memohon begitu ia terlanjur melihat pesan yang akan kukirim padanya.
Tyah Buro'. Itulah yang akan kukirim.
"Semoga tak bisa masuk," kata Tyah penuh harap.
Treeeet.... treeeet.... Getar HP Tyah menunjukkan ada yang masuk.
"Yaaa...h, dia masuk," kata Tyah.
Aku dan Lusi hanya bisa tertawa terbahak sepuas-puasnya, mengingat permohonan Tyah tadi untuk dikirimkan pesan tersebut.

Senin, 13 Desember 2010

Ikhlas

Jauh telah kini umurku bergerak. Perlahan namun pasti, perubahan itu tak pernah menungguku. menunggu setidaknya agar aku siap dengan kenyataan yang menyakitkan sekalipu. aku sadar, tak ada yang perniah siap dengan kesusahan, semuanya akan berkata "aku tak siap". kapan siapnya? Tak akan pernah...
Aku yakin dengan keyakinan yang melebihi tinggi badanku sendiri, bahwa tak kan pernah ada orang yang siap dengan keburukan yang menimpa. Ikhlas sekalipun dirasakan, itu bukan pertanda kesiapannya, ia hanya berusaha untuk menerima segala yang menimpanya terjadi sebagai sebuah hal yang memang harusnya begitu dan ia tidak punya pilihan lain.
Menikmati rasa sepahit apapun dengan senyuman.

Rabu, 08 Desember 2010

DINGIN

Tak cukup rasanya semua kain yang ada di sekitarku untuk menutupi semua rasa dingin yang aku rasakan. Dingin yang teramat sangat membuat tak seorangpun mampu menolak untuk tidak merasakannya walaupun terpaksa.
Aku hanya sebagian kecil dari penghuni bumi yang tersiksa dengan kenikmatan yang ada.
Kenikmatan yang teramat sakit untuk dapat dinikmati.
Haruskah pasrah menjadi pilihan terakhir dengan segenap ketidakberdayaan yang menghantui hidup?
Kini, aku juga mereka berada di satu tempat yang tak terjangkau oleh logika.
Sebuah tempat yang hanya mengandalkan nafsu untuk dapat bertahan hidup, agar semuanya dapat melanjutkan kisah yang ada.
Rasa ini membuat kita sadar akan pentingnya ikhlas.
Dengan itu kita akan dapat merasakan indahnya hidup dengan segala kekurangannya.

Sabtu, 27 November 2010

Jangan mulai dengan TANYA

Malam kian kelam, udara pun semakin dingin. Namun mata ini tak kunjung mengajakku menikmati indahnya kegelapan...
Aku tak terus dan selamanya seperti ini, tapi entah mengapa mata ini tak bergeming dengan semangatnya untuk tetap menatap langit-langit kamarku.
Lampu pijar yang sedari tadi aku nyalakan pun setia menemaniku hinggaku terlelap tidur.
Selimutku tak lagi bisa hangatkan hati yang menjadi langganan kesejukan rasa, langganan kebekuan rasa, serta langganan kekosongan rasa.
Semua kejadian mendorongku, bahkan membiusku untuk tetap MENIKMATI indahnya rasa sakit.
Rasa itu hampir tak sanggup lagi ku tahan.
Tapi apa yang dapat kulakukan??!!?
Haruskah aku memulainya dengan bertanya?
Tentu tidak...
Itu hanyalah kata yang tak pantas aku sebutkan.
Kata itu hanya membuatku bertahan dengan terus bertanya TANPA usaha untuk menemukan jawaban.

Minggu, 21 November 2010

TERGANTUNG KAMU

Ketika berada di wilayah yang hanya kamu dan beberapa orang saja yang saling kenal, sementara lingkungan itu amat asing bagimu, apa yang akan kamu akukan?
haruskah semua orang akan kamu jadikan berada dilingkungannya???
Ataukah kamu akan berusaha untuk memasukkannya didalam lingkungan yang kamu dan kawanmu hadapi.
Semua ada pada tanganmu masing-masing!
Kini, aku hanya bisa berusaha memasukkan mereka dikisahku tanpa sedikitpun tahu mau mereka.
Senyum, tawa dan dukaku kuharapkan dapat juga kamu rasakan di sana, ditempatmu berada.
Mereka hanya ingin kami semua merasakan rasa yang sama, dimana KITA dapat mengeluarkan gigi sama-sama, bak orang yang lagi ikut pamer gigi.
Atau bahkan mungkin tanding paling banyak air mata, alias nangis bareng.
Entahlah, semua ada di tangan kita masing-masing.

Selasa, 02 November 2010

Aku selalu ingin seperti mereka, senyum, tertawa, menangis, canda tawa semuanya serba seperti mereka...
tapi kenapa? kenapa aku tak pernah bisa?
aku selalu hanya bisa PURA-PURA segalanya...
apa penyebab semua ini???
tak adakah yang dapat menjawab atau memberiku sedikit alasan agar aku dapat menerima semua hal yang menimpaku kini......
tapi ku sempat bahagia, karena mereka ada untuk bahagia didekatku.
aku hanya ingin bahagia dengan kalian...
tak kah kalian tahu semua yang kurasakan sekarang???
kita ingin sama-sama bahagia bukan?
tapi kenapa tak kau berikan sedikit senyum itu?
baiklah. sesukamulah...

Kamis, 28 Oktober 2010

Pertanyaan Umum

senyum itu mungkin suatu saat tak kan kulihat lagi. dimana akan adajarak diantara kita. kau disana, aku disini, dan dia entah kemana!
buyar kadang halau pikirku untuk lanjutkan semua.
ntahlah.... tak pernah terjawab tanya yang ada....
kalian akan selalu mengisi ruang kecil jiwaku.

Pemuda dan Aku . . . . . . .

memulai sesuatu dengan hal-hal yang mungkin aku dan kawan-kawan sukai. sebuah sikap dimana tak ada satu orangpun yang tak menginginkannya....
kami hanya ingin ada senyum dimanapun kami berada...
tak mau biarkan perih menyentuh sedikitpun lubuk hati mereka...
menyeringai matahari dari semburat alam yang tersentuh dingin embun pagi.  dari semua asa yang tak ada yang rela meninggalkannya...

Senin, 18 Oktober 2010

Bulanku redup

malam mungkin akan mengerikan bagi sebagian orang, meskipun mungkin tidak juga demikian dengan sebagiannya yang lagi, termasuk aku....
malam adalah saat2 dmn aku bisa menikmati cahaya bulan menyentuh alam seolah ialah penguasa cahaya malam....
coba saja pandangi langit diatas sana...
bulan begitu tenang ditempatnya....
tempat yang entah sejak kapan ia disana...
namun, kali ini kurasakan beda, "bulanku" tak seterang dulu...
ia hanya menyentuh lembut retina mataku saat aku berusaha mencuri sinarnya untukku simpan dimemory otakku yang sedang kacau....
tapi tunggu...
bulan yang redup atau hatiku yang kalut??!!@##$@!!@!!>?
entahlah...
aku hanya tahu bahwa bulan itu bersinar namun tak seterang dulu
aku tak tahu apa penyebab sebenarnya keredupan itu, tapi aku yakin setiap orang akan dapat menguasai sinar bulan yang INDAH...

Minggu, 17 Oktober 2010

HaTi.............

ketika hati tak lagi menjadi hal yang penting untuk dijadikan pertimbangan.....
saat itulah kita mulai mematikan rasa yang sebenarnya...
hati memang tak bisa dijadikan opsi dalam salah setiap keputusan yang diambil, namun percayalah bahwa hati punya pertimbangan yang cukup bijak ketika Anda memerlukan saran. hidup memang tak selamanya lepas dari kesalahan, namun hidup juga memiliki dua sisi yang tidak semuanya dapat kita miliki. dan keyakinan akan adanya konsekuensi untuk setiap keputusan yang telah diambil merupakan ganjaran yang pantas atas semua sikap yang telah kita patok sebagai keputusan yang TERBAIK.

Kamis, 30 September 2010

MAUnya apa????

kekecewaan takkan pernah hilang selamanya dari diri seseorang, hanya gimana cara nanggapinya lagi. aku danbeberapa temanku juga demikian, yang menyakitkan adalah ketika aku kecewa, ternyata ada yang lebih kecewa dengan kekecewaan yang telah aku rasakan...
senang sempat aku rasakan ketika menyadari hal itu, namun belakangan kurasakan menyakitkan karena akhirnya aku tak dapat lagi merasakan nikmatnya disakiti...